Perihal Mencintai Diri Sendiri


    Kepikiran tentang hal ini ketika lagi di siang bolong terus ngelamun dan tiba-tiba pingin nulis. Sebelumnya, topik ini aku dapetin karena beberapa hari lalu baru aja selesai baca novel judulnya almond. Aku ini tipe orang yang kalau beli buku harus jatuh cinta dulu sama sampulnya, judulnyapun harus yang bikin aku ngerasa tertarik, baru deh aku baca ringkasan cerita di sampul belakangnya. Setelah itupun aku pasti harus baca-baca review orang dulu tentang buku yang mau aku beli, tapi lebih ke liat ratingnya sih, kalau udah yakin baru fix aku beli. Tapi beda cerita sama novel Almond ini. 

    Twitter udah jadi salah satu sosial media yang paling aku pegang banget beberapa tahun belakangan ini, dan singkat cerita aku follow base yang namanya literary base. Akun itu diperuntukkan untuk orang-orang yang suka membaca buku, jadi banyaklah ada diskusi seputar buku atau karya sastra lainnya. Nah, kalian tau kan 12 Desember lalu itu momen belanjanya orang-orang karena 12.12 di e-commerce ijo sama oren? Waktu aku buka timeline twitter, banyak banget seliweran orang-orang pada bingung mau checkout buku apa buat 12.12 dari e-commerce itu. Aku lihat ada cukup banyak yang masukin novel almond, laut becerita sama convenience store woman ke keranjang belanjaan mereka. Entah kenapa aku tertarik juga buat ikut-ikutan aja, tanpa peduli buku apa itu. Ini bener-bener langka banget sih, manapula ini novel terjemahan kan. Ya jadi ceritanya begitu.

   

    Mengenai novelnya, saat aku selesai baca novel Almond karya Sohn Won Pyung ini, aku merasa seneng karena aku memilih untuk checkout-in dia. Ga ada penyesalan ketika beli buku ini tanpa adanya proses yang biasa aku lakuin sebelum beli buku. Buku ini nyeritain tentang sepenggal kisah hidupnya Yoon-jae yang merupakan anak dengan kelainan di otaknya yaitu ada masalah dengan amigdalanya. Kelainan ini disebut dengan Alexitimia. Singkat cerita, di dalam novel ini, Yoon-Jae dideskripsikan sebagai anak yang emotionless yang artinya dia gabisa merasakan perasaan-perasaan yang umumnya orang lain bisa rasakan secara natural. Karena kekurangannya ini, Yoon-jae jadi mempunyai julukan monster. Kehidupan Yoon-jae agaknya tidak seperti orang lainnya, ia harus belajar mengenai berbagai macam perasaan lewat ibunya yang menuntunnya belajar tentang perasaan setiap hari. Yoon-jae belajar tentang perasaan layaknya orang lain yang mempelajari perkalian. Terus-menerus dia belajar tentang hal itu hanya untuk terlihat "normal" dan tidak aneh seperti kata ibunya.

    Berangkat dari keseluruhan buku itu, aku jadi bertanya-tanya tentang penerimaan diri sendiri dan arti  dari mencintai diri sendiri. Sebetulnya aku mungkin salah kasih judul karena gimanapun juga pemeran di novel ini emotionless  jadi dia pasti ga terlalu memikirkan tentang apakah dia harus menerima dirinya atau kah dia harus mencintai dirinya dan lain sebagainya. Tapi gapapa, justru dari situlah aku nemu insight  atau pandangan tentang mencintai dan menerima diri sendiri.

    Seringkali banyak dari kita yang masih gabisa lepas dengan budaya kurang positif yaitu insecure  karena kita terus-terusan membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Padahal sejatinya manusia itu dicipatakan berbeda-beda ya? Membaca cerita Yoon-jae, gabisa aku pungkiri kalau aku langsung merasa bersyukur meskipun aku punya banyak kekurangan. Dari Yoon-jae yang punya kekurangan gabisa merasakan emosi tapi tetep terus belajar tentang rasa sampai akhirnya berbuah hasil diakhir cerita, aku sadar kalau yang sebenernya kita lakuin adalah mencintai kekurangan kita dan gaperlu memikirkannya terlalu dalam. Dan yang terpenting disini adalah terus berusaha memperbaiki atau fokus pada hal yang kita bisa lakukan. Percaya gak percaya, proses itulah yang akhirnya akan bawa kita sampai di titik kita bisa mencintai diri sendiri karena kita akhirnya jadi belajar tentang diri kita dan sadar kalau percuma membenci diri sendiri, lebih baik menerima kurang dan lebihnya diri kita.

    Aku pernah baca disebuah artikel di internet yang mana katanya, kita baru bisa mencintai diri sendiri ketika kita udah bisa jujur dengan perasaan diri kita dan juga bisa menerima dan mengenal diri kita sendiri. Karena tanpa hal penting tersebut, akan selalu ada perpecahan di dalam diri yang berakibat gabaik dan bisa menjerumuskan diri kita ke lubang persetanan yaitu perasaan negatif.

Mungkin sekian yang bisa aku share di tulisan kali ini.
Semoga bermanfaat :D 

    

0 Komentar